Iman Yang Menyembuhkan

Peristiwa ini terjadi begitu cepat, tanpa sempat merekayasa. Diceritakan satu keluarga antara lain mempunyai seorang anak (putri – bukan tunggal) kesayangan. Apa yang diminta hampir selalu dituruti, kecuali keinginan untuk menjadi orang Katolik dan dipermandikan. Konon ceritanya putri kesayangan itu pernah sembunyi2 menabung uang jajannya agar bisa membeli pohon Natal sebagai layaknya dilakukan banyak keluarga nasrani.

Disampaikan cerita oleh saudaranya, membeli pohon Natalpun dilarang, karena kedua orang tuanya kurang menyetujui pohon Natal menghiasi rumahnya.

Suatu hari, putri kesayangan itu jatuh sakit, panasnya meninggi dan meninggi sehingga harus di-infus dan dirawat diruang ICU. Berbagai pengobatan sudah diusahakan, namun hasilnya belum menunjukkan titik terang, bahkan katanya dokter sudah “angkat tangan” dan hanya muzijatlah yang mempu menyembuhkan.

Kepada kedua orang tuanya dianjurkan untuk berdoa sesuai dengan agama kepercayaannya. Bisa dibayangkan betapa kalang kabutnya kedua orang tua itu. Pada saat kritis itu, kedua orang tuanya, semula lebih terdorong oleh rasa memberikan “hiburan” kepada putrinya, di-izinkanlah ia dibaptis katolik sesuai dengan kerinduannya selama ini dengan harapan siapa tahu Tuhan berkenan menyembuhkan.

Salah seorang anggota keluarganya yang beragama Katolik menghubungi saya (yang waktu itu menjabat sebagai ketua lingkungan). Yang pertama saya lakukan, menghubungi pastor lingkungan, memberitahukan seorang anak memerlukan doa dan sakramen permandian. Pastor lingkungan menjawab bahwa beliau sudah ada janji dengan orang lain, jadi sayapun, selaku ketua lingkungan boleh mendoakan orang sakit bahkan kalau perlu membaptisnya.

Terdorong oleh semangat melayani, penulis mengajak serta wakil ketua lingkungan mendampingi dan pergi kerumah sakit. Karena waktu, tak sempat mempersiapkan apa2, yang saya ingat cuma membawa buku doa (waktu itu) – “Madah Bhakti” saja. Dirumah sakit penulis melihat sudah ada seorang suster dari BHK, maka tanpa ragu saya minta baiklah suster saja yang membaptis. Tapi suster itu balik menyerahkan kepada saya. Saya sempat bingung sejenak, karena saya belum tahu upacara liturgis pembaptisan darurat oleh seorang awam apalagi saya tidak membawa air suci (dari gereja). Tanpa mengulur waktu, penulis minta sebotol air aqua, ya air minum biasa itu.

Disaksikan wakil ketua lingkunga, suster BHK dan salah seorang anggauta keluarganya yang beragama katolik dan dengan masing2 mengenakan pakaian khusus untuk para penjengguk ruang ICU, saya awali dengan berdoa spontan sebisanya kemudian saya akhiri dengan kata2 : “aku membaptis engkau, atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus – Amin” Tak ada ini dan itu, apalagi putri itu waktu saya permandikan dalam keadaan koma, tak bisa diajak bicara apa2.

Bahkan saya lupa berdoa supaya Tuhan terlebih dahulu memberkati air minum mineral biasa aqua itu disucikan. Saya cuma punya IMAN saja, karena soal upacara formal liturgis tidak pernah saya pelajari. Puji Tuhan ! Dua hari kemudian, diberitahukan kepada saya oleh saudaranya, putri itu mulai siuman dan kondisinya membaik dengan cepat, sehingga pada hari ke-3, sudah dipindahkan keruang biasa. Dokter yang merawat memuji bahwa ini semua adalah mujizat Tuhan.

Pada hari ke-5 atau ke-6 (saya lupa2 ingat), saya diminta datang kembali kerumah sakit, karena putrinya kepingin ketemu saya yang telah mempermandikan dia. Saya datang dan saya berdoa mengucapkan syukur kepada Tuhan sambil memuji kebesaran-Nya.

Sebagai ungkapan rasa syukur keluarga putri tersebut, kedua orang tuanya serta merta menyatakan ingin menjadi orang Katolik. Mereka belajar setahun dengan rajin dan diakhir pelajarannya – mereka berdua dibaptis di gereja dan sampai hari ini, keluarga tersebut aktif dilingkungan bahkan menjadi anggota badan pengurus. Satu lagi yang ingin saya sebutkan, pada saat saya membaptis itu, secara kebetulan hari itu juga adalah hari pesta santo pelindungan lingkungan. Sehingga saya merasa mendapat support luar biasa dari santo pelindungan lingkungan saya.

Hal lain yang ingin saya tambah kan, lebih kurang 2 bulan sesudah kesembuhan putri diatas, saya di bantu orang yang lebih ahli, membuang “bungkusan2” yang dulu mereka yakini membawa rejeki dan dimana dulu bungkusan2 itu tergantung, atas persetujuan mereka, kini, digantungkan salib2 Yesus.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s