Yesus Tidak Minta Hadiah Natal

Hari Natal menjelang. Kesibukan di sana-sini mulai terasa. Sibuk membuat kue, membeli kartu Natal untuk dikirim kepada teman, membuat dekorasi Natal, atau mulai berpikir-pikir hadiah apa yang akan kita dapat pada Natal kali ini, ya? Sebuah buku tentang cerita Natal? Baju baru, atau … sepotong kue Natal yang hmm … nikmaaat!!

Natal memang selalu dinanti-nanti. Pada bulan Oktober kita mungkin merasa betapa waktu berjalan cepat sekali. Tak terasa, kurang dua bulan kita akan merayakan Natal. Bulan November. Ups! Satu bulan lagi! Desember … kita mulai menghitung hari. Kesibukan semakin meningkat. Kita mulai mempersiapkan acara keluarga. Mulai membuat kue-kue kering untuk tamu-tamu yang datang. Mengumpulkan resep untuk jamuan Natal. Mempersiapkan pernik-pernik Natal yang dapat dipasang di pohon Natal. Semua kesibukan Natal itu kita kerjakan dengan senang hati. Seolah Natal adalah segalanya. Ya, Natal harus istimewa!

Tapi tunggu … Mungkin ada yang terlewatkan. Apakah kesibukan-kesibukan itu Anda kerjakan hanya untuk membuat Natal menjadi istimewa? Apakah Anda merasa Natal tak ubahnya seperti hari ulang tahun Anda? Segala sesuatunya harus baru, segalanya harus sempurna. Mungkin Anda lupa bahwa Natal itu milik Yesus. Hari ulang tahun Yesus. Mungkin Anda lupa bahwa Yesus lahir tidak di sebuah hotel mewah yang gemerlap. Yesus tidak lahir dengan sambutan meriah. Tidak seperti kelahiran Anda yang barangkali sudah dinanti-nanti oleh orangtua dan saudara-saudara Anda dan sudah dipersiapkan segala sesuatunya.

Tidak. Yesus datang dengan begitu sederhana. Bahkan Dia ditolak! Ibu Maria berkali-kali harus menanggung sakit hati dan kecewa ditolak di beberapa penginapan. Barangkali ia pun ingin berteriak kepada semua orang bahwa bayi yang dikandungnya adalah Mesias. Tapi siapa yang peduli? Akhirnya, terpaksa Yesus harus lahir di sebuah kandang yang dekil, bau, dan kotor. Mungkin bila kita hidup saat itu, kita pun enggan menjenguknya. Karena Yesus yang lahir di kandang pasti bau! Atau mungkin kita berpikir, Ah … buat apa menengok bayi yang miskin? Apa bedanya Yesus dengan bayi-bayi para tunawisma itu? Sama saja, kan? Toh Dia terlahir dari seorang keluarga muda yang miskin.

Yah, begitulah kelahiran Yesus. Dia hadir tanpa meminta perhatian seluruh kota. Hanya orang-orang yang berhati tuluslah yang Tuhan undang untuk menjenguk-Nya. Dia pun tidak meminta tempat yang mewah untuk alas tidur-Nya. Yesus tidak minta apa-apa dari kita. Dia hanya minta ketulusan dan kebersihan hati kita. Tidak. Yesus tidak minta dibuatkan pohon Natal yang gemerlapan, kue Natal yang nikmat, atau mungkin sepotong baju Natal yang indah.

Yesus hanya meminta agar kita mau membuka hati kepada-Nya. Dia meminta kita berbagi kebahagiaan Natal dengan semua orang, entah yang seiman dengan kita atau tidak, yang sewarna kulit dengan kita atau tidak. Yesus akan terlelap dalam timangan kebersihan dan kelembutan hati kita. Dia akan tersenyum karena nyanyian hati kita yang telah berbagi kasih dengan sesama. Yesus tidak minta kado Natal macam-macam.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s